Postingan

Menampilkan postingan dengan label Literasi

Teknologi sebagai Kawan Perempuan

Gambar
  P andemi baru-baru ini mengukuhkan bahwa teknologi semakin menguasai dunia. Apa-apa serba digital, penggunaan teknologi ada dimana-mana. Semua serba mudah, semua jadi lebih cepat. Dari segala penjuru dunia dengan ringkas terhubung. Karena akses komunikasi yang tinggal pencet-pencet tombol. Walhasil bumi seolah terasa selebar telapak tangan! Tak ada lagi cerita, kerepotan menghubungi handai taulan. Tak jua jadi alasan, susah mendapat ilmu dan berita. Bermacam-macam sumber informasi bertebaran di ‘udara’.   Sebagai perempuan, teknologi mampu jadi solusi. Bahkan bagi yang menyandang gelar ibu rumahtangga, meski sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah, itu tidak jadi masalah. Asal bijak menggunakan, teknologi benar-benar bisa jadi kawan. Namun jika tak ahli mempertimbangkan, ibu bisa jadi korban.   Maka, ketika berkawan dengan teknologi, seorang perempuan terutama ibu dapat lebih mudah memenuhi kebutuhannya dalam bereksistensi dan berdinamika. Ibu juga bisa de...

Mengenal Dimensi Waktu dan Bersabar Saat Menunggu

Gambar
  Review buku “Nanti itu Kapan’   Tocchan ingin sekali bermain dengan papa mamanya. Namun sejak pulang sekolah, mamanya bilang ‘Mainnya nanti saja.’ Mama tidak bisa mengijinkan Tocchan bermain saat itu karena harus segera membuka toko. Ya, papa dan mama Tocchan punya toko kue di rumah,   yang ramai pembeli. Sehingga kedua orang tua Tocchan selalu sibuk sepanjang hari. Tocchan harus bersabar menunggu orang tuanya selesai bekerja. Saat dia mengajak mama yang sedang melayani pembeli untuk segera bermain, hanya jawaban ‘nanti’ yang dia terima. Mama menyuruhnya menunggu sambil menggambar. Namun sampai kertas gambarnya habis, mama tak kunjung datang. Bahkan sampai dia melipat semua kertas origami, dia belum juga boleh bermain. Hingga akhirnya dia lapar. Melihat pembeli toko semakin banyak, tak mungkin dia meminta pada mama. Untung papa yang dari tadi mengantar pesanan kue, sudah datang.   Tocchan segera keluar rumah dan mengajak papanya bermain. Namun sama....

HARMONI antara aku dan mereka

Gambar
Hikmah dari lagu HARMONY by PADI Datanglah lagi masa dimana aku harus banyak-banyak menghadap komputer untuk mengingat-ingat kemudian menangkap dan melaporkan seluruh perkembangan murid-muridku di kelas 1A- Abu Bakar, SD Islam Insan Kamil. Saat ini pula, aku lagi gandrung mendengarkan lagunya PADI yang berjudul HARMONY. So, back sound aktivitasku akhir-akhir ini adalah lagu itu yang kuputar berulang-ulang... Dan kemudian aku tersadar, bahwa waktuku tinggal beberapa hari saja, untuk mendampingi 19 anak-anak hebat.. Rasanya, lagu itu tak lagi milik Piyu dkk. Tapi jadi milikku, karena pesan lagu itu adalah pesan cinta untuk murid-muridku... Setiap mendengar petikan gitar dalam intronya, hatiku berdesir... Allah... Terima kasih atas 19 jiwa yang pernah Engkau singgahkan ke dalam perjalanan hidupku ini.. HARMONY By: PADI ‘AKU MENGENAL DIKAU TAK CUKUP LAMA SEPARUH USIAKU’ (Baru 7 bulan aku mengenal mereka, dalam 23 tahun perjalanan hidupku) ’NAMUN BEGITU BANYAK PELAJARAN YANG AKU TERIMA...

Meraih Mimpi bersama LASKAR PELANGI

Gambar
(INSPIRASI lagu LASKAR PELANGI by Nidji) Ada yang berbeda di sekolah hari ini.. itu berkat keusilanku dengan ustadz suro. “Us, coba musiknya diganti lagu Laskar Pelangi aja!” “Yoyoyo.. Aku nduwe nang kene!” Ustadzah Utami menimpali.. “Mesti arek2 lak langsung nyanyi..” Kebetulan, yang ada di lobi sekolah, tempat dimana musik terdengar paling keras, murid2 kelasku lagi berkumpul. 15 anak itu sedang terlibat dalam satu ‘lakon’ permainan.. Dan... “Mimpi.... adalah kunci....” Benar kata us Utami. Tak usah ditunggu, beberapa anak langsung menyanyi.. Segala aktivitas mereka hentikan sejenak untuk mendengarkan lagu yang ’lain dari yang lain’, yang keluar dari speaker sekolah mereka.. Apalagi ketika di bagian... Menarilah dan terus tertawa.. Walau dunia tak seindah surga Bersyukurlah pada yang kuasa Cinta kita di dunia.. Selamanya.. Semua kompak menyanyi sambil malu-malu menggerakkan kepalanya.. Aku ikut menyanyi bersama mereka, karna aku suka sekali lagu ini....

SALJU GURUN

Gambar
SALju guRUN Di hamparan gurun yang seragam, jangan lagi menjadi butiran pasir. Sekalipun nyaman engkau di tengah impitan sesamamu, tak akan ada yang tahu jika kau melayang hilang. Di lingkungan gurun yang serba serupa, untuk apa lagi menjadi kaktus. Sekalipun hijau warnamu, engkau tersebar dimana-mana. Tak ada yang menangis rindu jika kau mati layu. Di lansekap gurun yang mahaluas, lebih baik tidak menjadi oase. Sekalipun rasanya kau sendiri, burung yang tinggi akan melihat kembaranmu di sana-sini. Di tengah gurun yang tertebak, jadilah salju yang abadi. Embun pagi tak akan kalahkan dinginmu, angin malam akan menggigil ketika melewatimu, oase akan jengah, dan kaktus terperangah. Semua butir pasir akan tahu jika kau pergi, atau sekedar bergerak dua inci. Dan setiap senti gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka, kau berani putih meski sendiri, karena kau…berbeda. Cited from ‘Salju Gurun’ in ‘Filosofi Kopi’, Dee-1998 Without any changes - Ketika aku ...