Tabungan Ketrampilan
Setelah mendapat telur hijau, saatnya menelisik lebih jauh untuk menemukan telur merah.
Setiap aktivitas di telur hijau (atau bahkan di setiap aktivitas dalam kehidupan kita) pastilah punya hal yang harus dilakukan supaya semakin terampil dalam melakukannya. Ketrampilan apa yang dilakukan untuk melakukan aktivitas dengan semakin baik.
Sebagaimana yang ditekankan dalam fase ini, waktu kita itu terbatas. Maka kita harus bisa menggunakannya dengan bijak. Yaitu dengan cara membuat prioritas. Mana yang harus kita lakukan terlebih dahulu, mana yang perlu diperhatikan di awal. Jangan sampai kita menghabiskan waktu dengan hal yang kurang penting, bahkan kita mencurahkan perhatian dan hidup kita pada hal yang tidak membuat diri ini bahagia. Belum sampai melakukan apa yang utama, waktu itu telah habis. Rugilah kita.
Maka, di tahap ini, Magika mengajak untuk menentukan ketrampilan apa yang harus kita kuasai. Sumbernya adalah dari segala aktivitas yang kita bisa dan kita suka.
Mari kita lihat lagi apa saja telur hijau yang telah aku temukan. Bagaimana prosesku menemukan ini, silakan klik tautan berikut:
https://evariyanim.blogspot.com/2021/12/TelurHijauEvaBundaCekatan.html
Nah, dari lima aktivitas favorit itu, aku membuat bank ketrampilan. Yaitu apa yang harus dipelajari supaya aku makin lihai dan cekatan dalam melakukan aktivitas kesukaan(dalam konteks ini adalah telur hijau).
Aku memilih tiga dari lima telur hijau, untuk dibuat bank ketrampilan. Tiga itu kupilih berdasarkan prioritas yang lebih penting dan mendesak daripada yang dua lainnya. Lalu di setiap telur hijau kucoba membuat matrik Eisenhower/Kuadran Penting dan Mendesak. Harapannya akan ku temukan irisan ketrampilan yang sama. Berikut jelajah telur merah yang sudah kulakukan selama sepekan:
Menulis dan Membaca
Menyimak review Magika tentang penugasan di jurnal telur hijau, kusadari bahwa aku kurang spesifik dalam menjelajahi diri. Semisal aktivitas ini, hal yang boleh dibilang adalah aktivitas yang kuanggap sebagai sumber kebahagiaan pertama untukku. Jika ditulis menulis dan membaca saja, ini masih terlalu umum. Karena ada banyak jenis aktivitas di dalamnya. Contoh misal untuk menulis. Bisa jadi kita menulis di blog (blogging), membuat jurnal, menyusun buku, dll. Sedangkan membaca bisa diperinci lagi, apakah itu aktivitas membacakan buku kepada anak-anak dengan nyaring atau membaca untuk mencari referensi.
Nah, setelah merenung beberapa hari, khusus di aktivitas telur hijau pertama ini, aku menggarisbawahi bahwa menulis dan membaca adalah satu kesatuan. Saling mempengaruhi satu sama lain. Semakin baik kegiatan membacaku, semakin oke tulisanku (lihat saja bagaimana aku menulis setelah dipengaruhi oleh aktivitas membaca novel. Simak sekali lagi di postingan tugas telur hijau yaa). Semakin sering aku menulis, aku harus semakin banyak membaca.
Setelah memilih dan memilah, maka aku menjadikan menulis sebagai poin utama dan membaca sebagai pendukungnya. Oke.
Kedua, karena menulis banyak sekali cabang aktivitasnya, beberapa kali aku merenung. Ini adalah aktivitas kegemaranku sejak dulu. Beberapa kali terbukti aktivitas ini sungguh membuatku bahagia bahkan bangga dengan diri sendiri. Namun seiring berjalannya waktu, aku semakin jarang melakukannya. Dan ini sebenarnya tidak mudah. Contohnya ketika ada hasrat untuk mengeluarkan kata-kata dalam ketukan-ketukan jari jemari atau sekedar goresan tinta pena, namun kesempatan untuk melakukan itu tidak ada. Aku merasakan sensasi 'ingin meledak'. Geram sendiri dengan kenyataan yang terpampang, kesulitan menyalurkan hasrat yang terpendam.
Di awal tahun, saat aku mengajukan proposal permohonan waktu menulis lebih banyak, suami kurang menyetujui. Dia meminta agar aku lebih fokus pada bisnis saja. Aku mengajukan keberatan. Sebab aku butuh melakukan hal yang aku gemari. Kemudian kami menyepakati agar aku fokus menulis dalam rangka menghasilkan cuan.
Gayung bersambut, tugas mencari telur merah membuatku mantap menjalani kenyataan. Hehehe. Kulakukan apa yang membuatku bahagia juga membuat orang lain menyetujui langkahku.
Beberapa saat kemudian, aku ingat dengan resolusi yang kubuat di awal tahun 2022. Ini gegara aku menerima flyer pendaftaran kelas menulis milik ibu profesional dan flyer event menulis buku bacaan anak. Keduanya mengerucut bukan hanya pada cuan sebagai tujuan. Namun karya yang manfaatnya abadi, sebuah upaya untuk mempersiapkan sangu di kehidupan kelak (sesuai resolusiku, menebarkan ilmu yang bermanfaat).
Jadilah 'masih' ada dua fokus yang kulakukan di ranah menulis. Yaitu menulis untuk cuan dan menulis untuk menebar ilmu berupa bukti terbit buku.
Merdeka belajar, belajar menjadi merdeka. Itulah cara yang ditekankan Magika untuk berproses di tahapan perkuliahan ini. Segala cara boleh dilakukan untuk mendapat ilmu dan bahan pertimbangan.
Karena itu aku menghubungi dua teman yang berkecimpung di dunia tulis menulis profesional. Yang pertama adalah sahabatku sejak di bangku perkuliahan, Siti Aisyah namanya. Dia yang mengaku-ngaku dan sampai sekarang bangga melabeli dirinya sebagai anakku (dan dia memanggilku 'mami'😆 ), adalah seorang reporter Jawa Pos. Selain bekerja di ranah publik, dia juga mengerjakan tugas domestik dan mendidik tiga anaknya. Pandemi membuat dia memutar otak, supaya pekerjaan menulisnya, dapat terus berjalan di tengah hiruk pikuk kehidupan rumah.
Saat kutanya, ketrampilan apa yang harus dipunyai supaya bisa menulis banyak-banyak, dalam tempo sesingkat-singkatnya, jawabnya tak disangka. Kukira dia akan menjawab ketrampilan 'mengetik sebelas jari'. Ternyata jawabannya adalah,
'Membagi Waktu'
Berikut cuplikan WA yang dia kirim untukku:
yg paling penting menurutku adalah menulis di waktu yg tepat mi. krn klo pas nulis jgn sampe ada yg ganggu, bs ilang ide2nya.
kya pas enak2 ngetik ada yg teriak "bun susunya mana?"
"Dek bikinkan kopi dek"
intinya klo mau cepet ya fokus, ngetik di waktu yg tepat dan tenang.
krn punya kemampuan fast typing gak guna klo dikit2 kita berdiri dipanggil anak ato bojo.
Hmm.. Benar juga.
Dan kemudian dia menjelaskan lebih dalam dengan memberikan contoh dirinya sendiri. Dia menulis saat malam hari, menjelang deadline kantor. Ketika semua anggota keluarga terlelap. Beruntung dia adalah a nocturnal mom sejak berkuliah. Lebih strong di malam hari, namun saat siang dia juga harus bisa mengatur jam istirahatnya.
Ketrampilan kedua yang disampaikan oleh perempuan yang mengikuti tes reporter bersamaan dengan aku (dan kami berdua sama sama diterima, hanya saja aku tak meneruskan mengejar mimpi di profesi ini), adalah manajemen gawai. Ini diperlukan saat harus menggali background knowledge sebuah tulisan. Googling diperlukan, namun akan jadi 'ambyar' jika fokus kita dipecah oleh keinginan membuka laman media sosial.
kemampuan googling tapi fokus sm yg dicari gak kmana2 trus buka2 medsos 🤣krn klo nulis pasti butuh background knowledge.
sama aja kya aku pas awal nulis berita perang syria, pasti lama. krn googlinh dulu awalnya gimana, gara2 apa dll.
tanpa background knowledge tulisane ngambang gak deep.
Masuuuuk!
((Kesentil akutuh))
Makasih ya, cinta!
Nah, selanjutnya aku mencoba menggali ilmu dari teman kedua. Seorang sahabat sejak di dunia putih abu-abu. Sekarang pria ini menekuni dunia maya, dengan mengembangkan bisnis di sana. Tak hanya itu, bro Rony Ardiyanto ini juga aktif sebagai trainer dan pendamping UKM, khususnya perihal internet marketing. Maka tak diragukan lagi pengetahuannya tentang menulis yang bisa menghasilkan cuan melalui online selling. Nah, beberapa tahun terakhir aku belajar tentang ini padanya.
Pertanyaan yang sama kuajukan, namun fokus hasilnya adalah tulisan yang bernilai ekonomis.
Jawaban pertamanya disertai dengan pertanyaan, 'hp/gadget udah support, Va?'
((Wkwkwk, dia tahu bahwa aku sempat terkendala dengan piranti!)
Kemudian dia dengan yakin menjawab, 'mulailah dengan menulis yang membawa manfaat'. Lalu memberikan masukan kedua berupa harus lihai menjadi influencer. Salah satu contoh caranya adalah dengan menjadi selebgram.
Aduh, karena aku takkuasa dan takbisa dengan cara itu, maka aku meninggalkan pembahasan tentang 'menjadi artis'. Hehehe…
Mari menyimak jawaban bapak satu anak ini,
- update trend
- copywriting
- content edukasi
- content marketing
- SEO
Mendapat jawaban darinya, aku buru-buru Googling, karena beberapa istilah tidak beredar di ranah domestik seorang ibu. Hehehe.
Dan saya menemukan satu ketrampilan yang penting dari ketrampilan-ketrampilan itu. Yaitu manajemen waktu dan manajemen gawai.
Sama dengan jawaban sang smart reporter sebelumnya, nihh.
Tak berhenti sampai di jawaban teman-teman, aku terus menggali lagi. Kusesuaikan dengan kondisiku yang masih minim jatah melakukan aktivitas suka dan bisaku ini. Berikut adalah daftar ketrampilan yang kuperoleh selama proses perenungan diri:
Kesemuanya kemudian kumasukkan ke kuadran penting dan mendesak:
Being Couplepreneur
Lanjut pada aktivitas telur hijau kedua. Yaitu berbisnis. Memang jika dibanding menulis, berbisnis menempati urutan kedua untuk hal yang kusuka.
Aktivitas ini spesial, bukan sembarang berbisnis. Karena aku menjalaninya tak sendiri. Tapi berkolaborasi dengan pasangan. Tantangan demi tantangan pasti muncul, seiring kelebihan-kelebihan yang kami dapatkan. Untuk sekarang, mari fokus pada tantangan yang terutama aku rasakan. Semisal seringnya adu pendapat dengan orang kesayangan, kelelahan menyelesaikan tugas domestik sekaligus menjalankan tugas bisnis, sampai amburadulnya rumah dan keuangan.
Untuk itu, tepatlah kiranya petualangan mencari ketrampilan yang bisa kudalami agar bisnis bersama suami ini semakin lancar. Aku semakin cekatan menjalankan peran sebagai manajer rumah tangga sekaligus manajer bisnis.
Berikut penelisikan yang sudah kutemukan. Sumbernya dari dialog yang secara spesial kulakukan dengan bapak direktur, pak suami Candra Andriawan. Serta beberapa kutambahkan dari apa yang sudah kualami dan kurasakan:
Lalu, ini adalah kuadran dari aktivitas berbisnis bersama pasangan:
Memasak
Sampailah kita di telur hijau ketiga, yaitu memasak. Tantangan yang masih kurasakan adalah pilihan hidup tanpa kulkas, memasak tanpa 5P sintetis padahal rasa masih belum teruji lezatnya 😅, serta memasak dengan low budget. Kesemuanya harus disikapi secara bijak. Karena keluarga kami butuh makan dan sehat. Maka, berikut ini adalah ketrampilan yang menurutku harus dipunyai untuk bisa jadi smart chef for my family, sekaligus kuadrannya:
Kesimpulan
Nah, setelah menilisik tiap-tiap telur hijau, membuat daftar ketrampilan dari masing-masingnya, aku mendapat beberapa ketrampilan yang terkuat. Saling beririsan, ada di setiap tiga telur hijau. Kufokuskan ke dua kuadran, yaitu
Penting dan Mendesak
Penting dan Tidak Mendesak.
Dari kuadran
kesimpulan di atas, aku telah menemukan telur merahku!
Yaitu ketrampilan yang akan kupelajari selama mengikuti kelas bunda cekatan
Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahirrobbil Alamin, inilah telur merahku kali ini.
Dan akupun siap melaju ke petualangan telur selanjutnya!
#institutibuprofesional
#hutankupucekatan
#lacakkekuatanmu
#jurnalmaintelurmerah
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih atas tanggapannya :)