INTERNALISASI DIRI DALAM BERKOMUNITAS (WAKTUNYA BERSELANCAR!-bag. 2)
Sejak bersekolah saya akrab dengan organisasi dan komunitas. Ada rasa percaya diri untuk mengambil peran penting, melayani yang lain. Menjadi pengurus adalah salah satunya. Kering hari-hari ini rasanya jika hanya dihabiskan seorang diri. Ada kebutuhan beraktualisasi dan bersosialisasi yang harus tersalurkan. Ada keharusan untuk selalu belajar sehingga saya tak mau diam dalam kesendirian dan waktu luang.
Hal ini membuat saya harus mau mengikuti norma yang berlaku dalam komunitas yang saya masuki. Baik sebagai anggota maupun pengurus. Pastilah saya pernah terpeleset kemudian oleng. Tidak melulu bisa bertahan di antara deburan ombak organisasi. Rasa tak enak atau kurang nyaman adalah konsekuensi dari kesalahan atau gesekan yang timbul. Namun balik lagi, demi keberlangsungan berkomunitas, saya harus bertindak.
Di dalam IP, semua boleh dilakukan kecuali yang tidak boleh. Beberapa yang tidak boleh itu harus dihindari. Supaya komunitas tetap adem (dingin dengan maksud tidak panas bergejolak), anggotanya dijamin ayem (nyaman).
Ada lima hal yang tidak boleh dibahas dalam komunitas, sebagaimana disampaikan kemarin. Kesemuanya membuat saya berujar dalam hati, 'bener juga, ya!'
Sebab kelimanya merupakan hal yang paling sering memercikkan api konflik. Baik internal pada diri anggota maupun eksternal yaitu antar anggota maupun anggota dengan pihak luar. Kebetulan saya pernah mengalami beberapa peristiwa yang sesuai dengan prinsip-prinsip di IP. Yaitu:
1. Tidak mengkritik pemerintah
Saya bergabung di kumpulan alumni teman SMA yang komunikasi nya lebih banyak via WhatsApp Group. Di sana saya hanya bicara sedikit-sedikit. Masih baru bergabung, meski sebenarnya isinya ya teman-teman lama. Saya memilih diam apalagi yang dibicarakan, terutama oleh para bapak-bapak, adalah tentang politik. Kebetulan mereka satu pendapat, yaitu anti pemerintah. Karena yang dibahas ya itu-itu saja, saya merasa aneh. Apalagi sampai mengejek dan menjadikan guyonan. Lalu saya coba bertanya pada teman yang sudah bergabung lama.
Ternyata, sebelum saya masuk, ada kejadian kurang mengenakkan. Kebiasaan bapak-bapak mengkritisi dan membuat guyon pemerintah, telah membuat beberapa teman lain memilih keluar grup. Dan yang keluar adalah teman yang berprofesi sebagai abdi negara/PNS, setelah sebelumnya membela pemerintah sebisanya. Karena mungkin kalah jumlah dan merugikan diri jika mengurusi, mereka memilih keluar komunitas.
2. Tidak mengghibah dan memfitnah
Benar memang jika wanita dekat sekali dengan ghibah
dan fitnah. Setiap kali bertemu, bisa jadi ada topik tentang seseorang untuk
dibahas. Saya mengalami. Meski tidak sebagai pengajak, saya sering masuk ke
lilitan ghibah. Awalnya sih membicarakan payahnya kinerja seorang teman dalam
kepengurusan. Merembet-merembet, eh malah ada yang menimpali, memberi info
tentang privasi si teman yang dibicarakan. Sahut-menyahut deh. Saya selaku
pendengar, secara tak sadar telah mengalami perubahan. Di mata saya, si teman
itu tak pernah benar. Selalu salah. Padahal saya belum membuktikan. Seharusnya
saya lebih bermental baja menghindari ghibah. Seandainya ikut di dalamnya,
lebih baik tutup mata telinga juga hati. Lebih netral dan cerdas
menyikapi
3. Tidak membicarakan tentang SARAT (Suku, Agama, Ras, Bentuk Tubuh)
Alhamdulillah,saya belum mempunyai pengalaman kurang mengenakkan pada poin ini dalam berkomunitas. Saya berada di kumpulan orang yang saling tenggang rasa atas SARAT ini. Yang ada hanya olokan-olokan dengan panggilan buruk tentang bentuk tubuh, namun yang dipanggil malah santai dan tidak menjadikan masalah
4. Tidak berbicara tentang khilafiyah
Saya memiliki pengalaman di poin ini beberapa kali. Perdebatan tak henti-hentinya tentang suatu hal yang sebenarnya sama-sama benar. Terutama di bidang pemahaman ibadah agama yang kami jalani. Ternyata beberapa teman mengalami ketidak nyamanan dengan 'pertengkaran' dua anggota lainnya. Saya lalu mencoba menghubungi dan mendekati kedua belah pihak yang bertikai, tanpa diketahui satu dan lainnya. Saya mencoba mengajak lebih bijak menerima perbedaan dan memahami pilihan pihak lain. Ternyata memang benar mereka tak nyaman dan salah satu nyaris keluar dari komunitas. Beruntung ada satu teman yang mau membantu juga. Dia lebih mafhum ilmu agama sehingga lebih mumpuni menyelesaikan kasus ini. Teman ini pula yang kemudian mengklarifikasi di hadapan teman-teman yang lain.
5. Tidak memiliki kepentingan lain
Suatu ketika saya bergabung dalam komunitas berhobi sama. Lama berdinamika di sana, kemudian saya harus pindah domisili. Sehingga kabar keberlangsungan komunitas hanya saya dapat dari media sosial. Awalnya komunitas itu aktif berkegiatan. Namun kok lama-kelamaan saya tak mendengar kabar. Saya pun menanyakan dan mendapatkan jawaban bahwa kepengurusan komunitas telah mati suri. Yang berakibat pada minimnya produktivitas anggota. Cerita lebih lanjut, ternyata sang ketua berbuat kesalahan. Dia menggunakan jabatannya sebagai tameng untuk 'mencari muka' di komunitas lain yang serupa. Selaku ketua komunitas kami, dia terlihat mumpuni menghandle karya di komunitas lain. Hingga akhirnya karya-karya yang ada digarapnya, dengan harapan pundi-pundi uang bisa didapatkan. Namun sayang, dia terlanjur tak profesional. Banyaknya proyek garapan yang dibayar di awal, membuatnya lari dari tanggungjawab. Meninggalkan semua itu. Hanya mengambil untung, tugasnya tak diselesaikan. Jadilah akhirnya, sudah komunitas ditinggal sang ketua sibuk di tempat lain, nama kamipun ikut tercoreng. Beruntung organisasi di atas kami sudah bertindak tegas. Menghubungi dan akhirnya melorot ketua kami dari jabatannya. Efek samping dari kejadian ini adalah komunitas kehilangan kendali sehingga memilih mati suri. Hingga saat penerimaan anggota baru, kami kehilangan kepercayaan masyarakat.
Itulah sekelumit kisah yang pernah saya alami dalam dinamika berorganisasi. Masalah yang timbul pastilah menguras energi untuk menanggapi. Lalu keberanian mengambil sikap harus dilakukan, untuk memastikan komunitas milik bersama tetap pada jalurnya. Dan semua anggota nyaman di dalamnya. Semua pasti ada hikmahnya, salah satunya adalah menjadi wahana pembelajaran untuk mendewasakan diri.
Sedangkan di IP, kebetulan tahun ini saya mengambil peran sebagai salah satu pengurus regional. Lagi-lagi, dinamika komunitas telah saya rasakan dan jalankan. Untuk itulah, saya berkomitmen secara sadar untuk terus memperbaiki diri sesuai dengan prinsip dan CoC kami. Yaitu dengan berupaya selalu:
2. Selalu
bergegas dan mengutamakan waktu
Ini yang masih jadi tantangan bagi saya. Manajemen waktu harus selalu saya tingkatkan agar bisa 'gercep' dan tepat waktu
3. Menghilangkan
sifat sok tahu
Selalu menjadi gelas kosong tanpa lubang, yang siap menerima ilmu dan pengalaman. Tiada lain hanyalah untuk peningkatan kualitas diri. Tak pernah merasa cukup pintar di tingkatan manapun, InsyaaAllah akan menghindarkan saya dari sifat sombong dan ujub.
4. Sungguh-sungguh
dalam menjalankan tugas
Tidak main-main, memahami perintah dengan baik, dan fokus pada apa yang harus saya kerjakan. InsyaaAllah dengan kesungguhan saya menjalankan tugas, akan mempengaruhi kelancaran sektor lain. Sehingga jalannya roda komunitas akan lebih baik. Toh peran tersebut yang memilih adalah saya. Tidak ada yang menyuruh saya mengambil peran itu. Maka saya harus bertanggungjawab untuk itu.
Berselancar memang seru. Ombak yang menerpa, angin yang menderu, mengusik kekuatan dan keseimbangan tubuh. Ancaman terjatuh lalu tenggelam menghantui. Rasa was-was harus hilang. Segala skill menggerakkan papan dan badan harus dikeluarkan, agar kita bisa segera sampai di pulau cahaya. Begitu pula saat berkomunitas. Gesekan berujung konflik, ketidak nyamanan bertemu teman, macetnya salah satu tugas orang lain, mungkin kita alami. Selama kita ingin terus berada di situ, bersungguh-sungguh dalam berdinamika, menghargai dengan berkomunikasi luhur antar sesama, belajar tanpa punya rasa puas dan sombong, InsyaaAllah akan ada hasilnya. Di IP, CoC membantu kita menggapai keluhuran berkomunitas.
Baca bagian sebelumnya di: https://evariyanim.blogspot.com/2020/08/pentingnya-standar-dalam-komunitas.html



Setuju bgt, Mbaa
BalasHapusHendakny memang dalam bergaul d komunitas mana pun kita tak ada tendensi apa2 selain memberikan yg terbaik y Mbaa
Enggak enak jg kalau udh telanjur berkonflik meski cm sekadar salah paham
Iya, Mbak. Sekali berkonflik walau simpel, udah bikin ga enak tiap kali ketemu di forum. Terimakasih
BalasHapusNggih mbak.. siap.. berkomunitas itu seneng banget.. menambah saudara, bisa share banyak pengalaman dan ilmu. Jauh-jauh deh itu si konflik.. biar hati ayem tentrem. hehe.. ohya IP itu apa ya?
BalasHapusHihi .. makasih udah komen, Mbak. IP itu komunitas juga, Mbak. Institut Ibu Profesional. Monggo dikepoin aja lebih lanjut
HapusKnp y kak gk boleh mengkritik pemerintah?
BalasHapusSerius tanya :)
Maksudnya, karena bukan di sini tempatnya, Mbak. Untuk meminimalisir 'kericuhan' saja. jika memang ingin melakukannya, bisa nyambi cari tempat lain. gitu maksudnya :)
HapusAku termasuk orang yg suka berkomunitas, semuanya emang bener ga boleh karna didalam berkomunitas itu kan ga semuanya sama dan ga semuanya 1 pendapat + sering bertemu. Kalau udah ribut atau musuhan auto diem-dieman kan ga enak kalau udah kaya gitu 😁
BalasHapusSalam Ibu Profesional ya, Mbak. Di regional mana, Mbak? Pengurus yang mensosialisasikan CoC kah? Jangan-jangan kita satu WAG.
BalasHapusSaya sependapat, Mbak.
Jalani peran yang dipilih dengan bertanggung jawab. Dan yang terpenting, jangan lupa bahagia.
SARAT, yang terakhir memang sering dijadikan bahan bercanda. Samar tetapi kadang menyakitkan bagi sebagian orang memang ya mbak :)
BalasHapus