PENTINGNYA STANDAR DALAM KOMUNITAS (WAKTUNYA BERSELANCAR!-bag.1)


        Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko, kegemaran dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti "kesamaan" (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Komunitas).

         Mereka berkegiatan bareng, saling berinteraksi satu sama lain dengan mudah dikarenakan persamaan tersebut. Semisal sama-sama dari daerah mana, yang punya hobi sama, yang beraktivitas sama, yang berpendapat sama dalam menyikapi suatu hal, atau bahkan yang memiliki sebuah barang bermerk sama. Masih banyak lagi contohnya.

         Walaupun mereka disatukan dengan beberapa persamaan, komunitas tetaplah terdiri dari individu-individu yang berbeda. Tidak ada yang murni 100% sama. Misalnya meski sama-sama suka merajut, dalam komunitas tersebut ada yang berprofesi sebagai ibu pekerja yang lainnya ibu rumahtangga. Pada komunitas warga asal Ponorogo yang berdiam di Tuban, meski sama-sama merantau,para anggota terdiri dari pria dan wanita. Masih banyak lagi contohnya.

         Perbedaan-perbedaan yang menyertai dalam berkomunitas ini bila dibiarkan akan menimbulkan gesekan-gesekan. Hingga ujungnya bisa-bisa menjadi konflik yang menyebabkan anggota merasa tak nyaman dan ujung-ujungnya keluar atau parahnya komunitas itu buyar.

         Padahal, menilik sinonim kata komunitas yaitu paguyuban dan persatuan, sekumpulan orang itu harusnya menjadi guyub dan rukun. Adanya perbedaan menjadi pelengkap satu sama lain. Sifat-sifat tepat saliro, saling menghormati bisa semakin dipupuk jika ada dalam komunitas. Satu lagi padanan kata komunitas adalah organisasi. Diharapkan orang-orang di dalamnya mau belajar menata (mengorganisir) dan ditata (diorganisir). Sehingga kecerdasan memanajemen waktu, interaksi sosial, bahkan emosi bisa terasah jika kita berkomunitas.


Code of Conduct Institut Ibu Profesional

         Untuk itulah, sebuah standar operasional, peraturan dalam berkomunitas itu penting. Hal inilah yang menjadi landasan setiap anggota untuk bersikap. Jika dilakukan dengan baik maka manfaat akan didulang. Jika dilanggar, akan ada konsekuensi di belakang.

         Begitu pula dengan komunitas sebesar Institut Ibu Profesional. Memang semua anggotanya perempuan, namun mereka mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Beragam profesi, suku bangsa, agama, tingkat usia, ada di sini. Maka rentan pula terjadi gesekan di dalamnya. Entah itu semisal salah paham saat berkomunikasi dengan beda intonasi, atau perbedaan prioritas peran yang diambil. Awalnya bisa jadi hanya sekedar menimbulkan perasaan tak nyaman. Namun jika dibiarkan, lama-lama akan jadi penyakit yang menggerogoti tubuh komunitas. Naudzubillah…


         Code of Conduct (CoC) adalah sebutan dari norma yang dipakai dalam berdinamika di komunitas/organisasi ibu profesional. Kebetulan pada tanggal 3 Agustus 2020, di momen prabunsay, ada pembahasan tentang hal ini. Dengan tajuk wahana surfing, para mahasiswa benar-benar merasakan riak ombak yang menggugah adrenalin. Dibawakan oleh mbak Kasihani dan mbak Ratna Palupi, duo penyaji yang seru. Dengan bahasan yang menantang, beliau berdua membuat siang hari kemarin benar-benar membawa kami berani berdiri di atas selancar! Beberapa contoh dinamika berkomunitas ditunjukkan sebagai penyerta bahasan tentang CoC atau value di Ibu Profesional. Misalnya adanya silent reader atau member baper dan yang parah adalah ketika ada perdebatan tak ada ujungnya antar anggota. Ketegangan yang terpantik untunglah segera diguyur dengan contoh solusi yang dilakukan.  

         Adapun CoC sendiri dirumuskan bukan tanpa konflik. Sempat terjadi pro dan kontra atas hadirnya. Namun karena kebutuhan organisasi, CoC hadir dengan tujuan sebagai berikut:

-Normatif atau sebagai aturan dan pedoman dalam berkomunitas

-Preventif atau pencegahan terjadinya pelanggaran

-Kuratif atau penyelesaian atas masalah yang ada.  

         Yang namanya gesekan atau konflik pastilah kurang mengenakkan. Entah itu orang lain yang mengalami ataupun kita sendiri yang terlibat. Khilaf dan salah menjadi sebab terjadinya pelanggaran, sehingga membuat diri sendiri ataupun orang lain, kurang nyaman berinteraksi di dalam. Namun dikarenakan dalam komunitas itu tadi, tetap kita harus mengambil peran. Melakukan apa yang boleh dilakukan sesuai norma komunitas. Bagai berselancar yang harus siap diterjang ombak, digoyang angin, sedangkan kita sendiri harus tetap seimbang agar tak jatuh bahkan tenggelam, begitulah kita. Adrenalin terpacu mengalahkan rasa ragu, 'Saya Harus Tetap Berdiri!'


bersambung ke:

https://evariyanim.blogspot.com/2020/08/internalisasi-diri-dalam-berkomunitas.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Copy writer 'Yakk, sett! Jadi!'

Sudahkah Bersyukur atas Dua Nikmat?

Saatnya Menyelami Samudra Sikap