Istana Pasir ala saya
Wanita dan Fitrahnya
Allah berfirman, “Laki-laki tidak sama dengan perempuan.” (QS. Ali Imran: 36)
Setiap perempuan terlahir membawa fitrahnya sendiri. Dia berbeda dari laki-laki. Baik dari fisik maupun sifat. Ketika perlahan-lahan tumbuh, anak perempuan memiliki tugas perkembangan sendiri. Sebab itulah mereka istimewa dan harus dididik dengan cara yang spesial. Kelak saat dewasa, mereka adalah gerbang perbaikan sebuah generasi.
Karena tanggung jawabnya selaku ujung tombak peradaban, tiap wanita memiliki tugas perbaikan-perbaikan. Karena generasi yang bertauhid, sehat bugar, berakhlak mulia, dan cerdas menghadapi tantangan, dimulai dari wanita-wanita di sekeliling mereka. Salah satunya adalah wanita sebagai ibu yang telah melahirkan mereka.
Jadi ibu kudu mawas diri. Harus sadar tentang tugas membangun peradaban tersebut. Di sini ibu memiliki tugas sebagai makhluk ciptaan Allah, yang memiliki tugas sebagai seorang anak/menantu, istri, bunda, serta bagian dari masyarakat.
Ibu Profesional menurut saya
Di sisi lain, seorang ibu hanya manusia biasa. Jauh dari kata sempurna. Dia membawa kekurangan dan kelebihan. Dalam menjalankan segala tugasnya, selalu ada dinamika. Naik turunnya emosi, semangat, bahkan kesehatan misalnya.
(Ket. gambar: Definisi Ibu Profesional menurut saya)
Maka untuk menjadi profesional, ibu harus mau belajar. Tidak mudah lemah menyerah atau bahkan gampang merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Ibu harus mau terus memperbaiki diri dengan proses belajar. Diiringi dengan sikap bersungguh-sungguh dan berkomitmen, sabar, ikhlas, dan pastilah bahagia.
Allah berfirman,
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar. Ra'd:11)
Inilah Saya ...
Maha Besar Allah, yang menciptakan makhluk-Nya berbeda-beda. Begitupun antara ibu satu dengan lainnya tidak pernah sama. Mereka punya potensi diri masing-masing, kekurangan dan kelebihan sendiri, serta harapan-harapan yang bersifat pribadi.
Begitupun saya pribadi. Di usia 35 tahun ini, secara sadar sayapun memiliki banyak peran. Selain sebagai ibu dari dua orang putri cantik, saya juga menjalani posisi sebagai seorang istri, anak dan menantu, bagian dari masyarakat. Dan tak kalah penting adalah seorang individu yang menyembah Allah.
Ketika berkaca atas apa yang telah saya lakukan, ternyata banyak hal yang butuh perbaikan. Saya dengan segala kekurangan pribadi, butuh terus memperbaiki diri. Harus selalu mau belajar, rela dinasehati, dan mengambil hikmah dari perbuatan.
(Ket. gambar: Peta Diri saya)
Dengan menahan malu, silakan disimak. Inilah peta diri setelah saya bermuhasabah. Diri ini masih banyak kurangnya. Dalam peran apapun saya masih belum melaksanakan dengan baik.
Alhamdulillah, atas kuasa-Nya, saya
dipertemukan dengan ajang mencari ilmu di institut Ibu Profesional. Kebetulan
kali ini saya berada pada level perkuliahan Bunda Sayang. Tujuan utamanya adalah
menjadikan ibu sebagai sosok penting dalam perbaikan diri dan sekelilingnya,
terutama keluarga.
(Gambar ada di bagian paling atas)
Pada tugas pertama, saya dan teman mahasiswi lainnya diminta untuk menganalogikan landasan dan harapan dalam sebuah istana pasir. Because every lady is special, tiap ibu itu berbeda, maka istana pasir kami tak bisa ada yang sama.
Istana Pasir ala Saya (Gerbang Depan)
Bagi saya, tugas ini seolah memfasilitasi untuk mendesain tempat tinggal sebenarnya. Karena saya dan keluarga mendambakan sesegera mungkin, bisa menempati rumah sendiri. Beginilah istana pasir 'kediaman' kami.
Nampak bagian terluar adalah gerbang depan (front gate), dimana bagian ini tersambung dengan dinding yang mengelilingi bangunan istana. Adanya bangunan ini adalah sebagai akses masuk utama.
(Ket. Gambar: Gerbang Depan)
Gerbang ini sangat kuat, menahan angin kencang dan ombak yang menggerus. Menggambarkan keinginan saya agar keluarga kami menjadi tangguh menjalani hidup. Dua pohon bakau mendampingi di depan, dan beberapa mengelilingi bangunan. Ini sebagai pelengkap namun penting. Apakah itu? Akidah. Harus saya pastikan tertancap kuat dan jadi landasan utama di setiap lini kehidupan.
Selanjutnya, hanya ada satu pintu besar yang menghubungkan kehidupan di dalam istana dengan dunia luar. Pengawal yang bertugas di sana, harus tegas namun ramah menerima tamu. Setiap ada orang datang, pengawal menghubungi kami di dalam, menunjukkan siapa tamu tersebut. Selanjutnya setelah kami menyetujui, sang tamu akan masuk. Hal ini menggambarkan bagaimana saya harus menerapkan sikap selektif atas apa saja yang datang. Perlu dipastikan, apakah sebuah ilmu/info yang datang itu baik bagi keluarga atau tidak. Jika baik, selanjutnya harus diperhatikan apakah itu benar menurut pakem-pakem yang kami anut. Jika sudah baik dan benar, setelahnya harus dipastikan apakah hal itu bermanfaat atau tidak.
Di gerbang juga ada tumbuhan 'lidah
mertua' yang berfungsi selain sebagai hiasan juga bermanfaat untuk menyerap
polusi atau udara kotor. Ditambah rimbunnya tumbuhan gantung yang menjulur dari
atas, gerbang ini jadi semakin cantik. Harfiahnya, saya ingin memoles keluarga
sekaligus saya pastinya, untuk lebih santun dalam bersikap. Sehingga saat
berdinamika dengan orang lain, tercipta kenyamanan. Tak hanya itu, orang lain
juga bisa menyerap manfaat kami.
Istana Bagian Dalam
Selanjutnya, mari kita lewati gerbang besar untuk masuk ke istana. Kaki anda akan kaget, sebab yang diinjak selanjutnya bukanlah pasir. Namun rumput yang mampu hidup di atas pasir. Beberapa tumbuhan hias di halaman membuat mata terhibur dan hati pun senang. Semua tumbuhan dipilih dengan benar, supaya bisa bertahan di area khas pantai. Jangan sampai ada yang kemudian mati karena tak tahan dengan cuaca pinggir pantai yang cenderung hangat dan air laut yang asin. Kehadiran keluarga saya, semoga bisa membahagiakan satu sama lain, untuk kemudian dapat menularkan hal tersebut pada orang lain.
(Ket. Gambar: Istana Pasir alas saya-Bagian Dalam)
Kemudian anda akan dipersilakan duduk di teras yang luas. Salah satu pelayan istana sigap mendatangi, menanyakan anda mau menikmati apa. Makanan, minuman, atau sekedar membaca? Sedangkan satu lagi pelayan akan memanggil kami yang ada di dalam. Adanya pelayan sebagai gambaran bahwa keluarga kami sangat ramah dan kami mampu berdikari dengan sistem keluarga yang telah kami sepakati dalam standar-standar yang ada. Hal ini menunjukkan pula bahwa keluarga memberikan peluang untuk anggotanya mau terbuka dalam menyampaikan sesuatu. Entah itu anak-anak, saya sendiri, suami, maupun yang lain.
Teras yang luas juga mencirikan
keterbukaan bagi semua tamu yang sebelumnya telah diseleksi di gerbang
utama.
Family Zone
Namun, tetap keluarga kami memberikan batasan pada orang lain. Kami memiliki bangunan khusus untuk keluarga. Yaitu di family zone. Di situ adalah ruang privasi kami. Tempat kami bertumbuh sebagai individu yang memiliki batasan-batasan norma. Hanya keluarga inti dan pelayan yang harus bilang permisi untuk bisa masuk ke sana.
Main Building
Baiklah, lanjut pada dua bangunan yang mengapit teras. Di sebelah kiri adalah main building. Di sanalah saya dan suami juga anak-anak menciptakan arena bermain sesuai bakat dan minat masing-masing. Misal saya yang suka literasi, menyediakan perpustakaan di sana. Selain itu, ada pula ruang khusus untuk menjahit dan membuat hasta karya Suami yang bergerak di bidang teknik sipil, mempunyai ruang khusus untuk mengerjakan tugas-tugas nya. Pun ada pula ruang dimana dia mengajarkan ilmunya pada beberapa karyawan. Anak pertama saya yang suka memasak, membangun dapur dan mini cafe untuk trial and error segala resep. Sedangkan si adik yang gemar menikmati film punya studio foto dan mini bioskop.
Semua bagian di dalamnya tak hanya untuk dinikmati oleh keluarga kami. Justru kami memberdayakan masyarakat, termasuk para pelayan/karyawan dalam mengembangkan keahliannya. Dari main building itu diharapkan akan menghasilkan banyak barang yang bisa dipasarkan. Entah untuk tujuan ekonomis maupun sosial. Manfaat bisa tersebar lebih luas.
Green house
Di seberang main building, ada bangunan yang disebut green house. Untuk merawat tumbuhan. Kami di sana merawat sayuran dan bahan pangan lainnya. Yang telah dengan cermat dan tepat dipilih sesuai cuaca dan kondisi alam. Selain untuk konsumsi, tumbuhan juga menyumbang kebermanfaatan bagi lingkungan. Masuk lebih ke dalam, ada juga area peternakan yang menjadi kegemaran suami, yang juga bisa menopang perkebunan.
Masjid
Bagian terakhir adalah bangunan tertinggi. Yaitu menara masjid. Terdengar adzan setiap masuk waktu sholat. Ada kajian di hari-hari tertentu. Ada pula kegiatan rutin untuk anak-anak yang bisa saya gawangi. Semisal mendongeng dan belajar mengaji.
Begitulah istana kami. Tempat saya dan keluarga mengasah potensi pribadi, memupuk kehangatan dan cinta kasih keluarga, serta memberikan manfaat untuk masyarakat. Juga hal terpenting adalah meningkatkan iman dan taqwa sebagai hamba Allah.
Semua aktivitas istana bisa
terlaksana dengan baik, salah satunya adalah karena keberadaan saya selaku ibu.
Saya menyadari ini hal krusial. Sekali turun motivasi dan kekuatan, saya harus
berbenah. Harus bijak mengambil langkah. Jika tak mampu, di dalam masih ada
suami ataupun orang tua yang lebih bijak menasihati. Ada pula di luar istana,
guru, teman, dan yang lain untuk membenahi diri.
Semoga Allah memudahkan usaha saya di ajang bunda sayang batch 6 ini, menjadi bunda profesional kesayangan keluarga.





Yang gambar siapa ni? Lucu beuut.
BalasHapusSemangat menjadi lebih baik, suhu!
yang gambar saya, Master! Terima kasih, ya Sayang :*
Hapus