Gara-gara Corona; Makna dibalik Sakit
"Dua nikmat yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang." (HR. Bukhari).
Rasulullah menyampaikan bahwa kondisi sehat dan luang adalah kenikmatan. Sehingga sebaliknya, saat sakit dan waktu sibuk yang menyesakkan berarti sudah tidak dirasa nikmat. Namun dalam sabda yang sama, juga ada peringatan bahwa manusia bisa tertipu. Sehat dan waktu luang bisa jadi sebuah pintu kelalaian. Saat badan kuasa dan kesempatan hadir penuh, bisa jadi kita terlena dan parahnya dosa tak sengaja dilakukan. Maka, sakit dan waktu sibuk bisa jadi datang sebagai PENGINGAT. Sakit bisa jadi pengantar manusia untuk ingat keadaan lemah dan tanpa dayanya. Dan kembali sadar, siapa sang Maha Kuat dan Agung. Sehingga dengan penuh harap, bibirnya akan basah dengan alunan dzikir serta doa semoga lekas sembuh.
Beranjak ke hadits berikutnya,
"Tidaklah seorang
muslim yang tertusuk duri atau yang lebih ringan (sakitnya) darinya, kecuali
dicatat baginya derajat dan dihapus darinya dengan hal itu kesalahan (HR
Muslim)".
Ternyata
sakit itu bisa mengurangi dosa. Alhamdulillah. Bukankah ini sebuah nikmat tak
terkira? Bukankah ini bisa mengantar kita kelak, ke dalam kenikmatan akhirat? Yaitu
syurga. Bukan neraka.
Tenang saja, tak hanya kita yang diberi sakit. Ingatlah bagaimana Rasulullah SAW sobek kepalanya, retak wajahnya, dan karena dilempar batu berdarahlah kakinya. Atau nabi Ayyub a.s. yang menahan sakit selama 70 tahun. Begitu pula para nabi dan shahabat, atau alim ulama lainnya. Mereka mau dan rela menerima ujian dari Sang Pencipta, karena karena kemuliaan yang lebih tinggi dari kita.
Maka, coba kita ubah persepsi kita. Dengan tahu apa makna dibalik sakit, corona bisa jadi bermanfaat. Gara-gara corona kita bisa mendapatkan ampunan dosa. Gara-gara corona kita bisa bersabar dan jadi ahli syukur. Gara-gara corona pula kita diperingatkan untuk tidak lalai dengan waktu luang dan kondisi sehat kita. Sebab, bukan maksud ingin sakit corona (naudzubillah), sekali lagi, kita bisa memperbaiki diri kita. Baik itu dari kebersihan diri dan lingkungan, kedisiplinan dalam mengisi waktu luang, dan pastinya ketakwaan diri pada Allah SWT. Tetap berfikir positif dan bahagia agar kita selalu sehat penuh nikmat!ðŸ¤

Betul banget mbak. Saya sendiri merasakan hikmah dari adanya wabah ini. Terutama untuk perbaikan kualitas hidup.
BalasHapusSelalu ada hikmah dibalik tiap peristiwa ya mbak. InsyaaAllah. Saya juga banyak belajar dr sikon sekarang mbak. Meski ya hrs tetep mendorong pemerintah supaya ga plin plan ambil kebijakan ya
BalasHapus